Postingan

HURUF-HURUF MENGGELETAR

langit yang lengang, udara panas, tapi aku menggigil dalam sajakku sendiri. huruf-huruf meminta dituliskan dalam darah. dalam derita airmata
huruf-huruf menggeletar menggelepar memburu jawabku: "cintamu palsu, nafsu birahi melulu! apakah kau dengar jerit pilu di lapangan eksekusi?
"masihkah engkau ingin menulis sajak cinta, saat keadilan teraniaya?" demikian sebuah suara. dan aku tergagap gila.
ya, kita terlalu banyak berbicara, memperdebatkan yang hanya bisa dirasakan, di dalam dada kita sendiri.
ada apa di luar sana, masihkah cinta diperdebatkan, udara tropis yang panas tapi aku gigil mengeja cinta yang berteka-teki
aku bayangkan ada serpihan-serpihan salju meluncur dari langit yang lengang, langit abu-abu, di saat gigil memandang jendela
Malang, 2011

KAU MERASA MENJADI SESUATU YANG TAK KAU PAHAMI

serupa gerimis, puisi menyimpan tangismu diamdiam, turun perlahan, di malam yang tak pernah kau akui mencintai sepinya
sebuah sajak kau nyalakan di malam yang demikian rapuh, serapuh dadamu yang tak mampu menahan tangis
kau merasa menjadi malam yang tak pernah dicintai, selain dikutuk mercusuar yang sepi, laut yang gaduh dan perahu yang kehilangan arah
engkau merasa menjadi perahu kecil yang terombang ambing di laut badai di kerdip pasi cahaya mercusuar yang sepi
engkau merasa menjadi badai di laut yang gaduh memecah di pantai yang jauh menghempashempas tak henti
kau merasa menjadi mercusuar di laut badai, kerdip demikian sepi, di dalam deru, demikian pasi cahaya, demikian sepi
Jogja, 2011

DENGAN SAJAK KUKABARKAN PUISI

Sajak adalah mata kanak kanak yang bening tak berdosa, temukan rahasia di balik teka teki waktu, sebuah kehendak Kau tak dapat berbohong dengan sajak, karena sesungguhnya hatimu telah menera jejak
Jika kabar demikian samar, sajak mengajakmu untuk menebak, teka teki kehendak
Puisi telah memenuhi ruang kepalaku, riwayat riwayat yang minta dicatat, keindahan yang minta dikabarkan
Dari hati kembali ke hati, dari cinta kembali ke cinta, demikian puisi akan kembali kepada puisi, di dalam diri
Bukankah menginginkan rumah yang nyaman, demikian pula puisi, ingin layak diletak di rumah sajak
Malang, 2011

KUCARI ENGKAU, TAPI KATAMU KAU CARI DULU DIRIMU SENDIRI

kota demi kota menyimpan jejak kakiku, kenangan demi kenangan menera peta dalam sajakku, tapi dimana diriku sendiri?
dari ceruk ke ceruk, dari palung ke palung, kucaricari rahasia diri, dimana sembunyi jawab atas tanya, o dimana?
di tanur tanur rindu cintaku ditempa, hingga muai oleh api cemburu, hingga murni, cintaku padamu
berkali-kali aku gawal dalam uji, berkali-kali kau ampuni, karena cintamu kutahu, karena cintamu. memberi arti

di puncak malam ada yang tugur, menunggu sunyi gugur, sebagai airmata yang bercahaya, melarutkan kesah ke lautan maha Cinta
Malang, 2011

Losari Siang Hari

Pantai Losari bermandi cahaya matahari.  Biru laut. Laut biru. Kapal dan perahu melaju. 
Hari yang cerah. Langit yang biru.  Tersenyum padamu
Makassar, Juli 2011

Senja di langit losari

Senja itu menyemburat di langit. Losari yang mulai menyalakan lampu lampu.


Senja di langit losari. Ucapkan salam pada pantai. Ucapkan salam pada tiang tiang pancang. Senja. Senja


Makassar, Juli 2011

Musi Malam Hari

Bulan mengambang 
di langit lengang. 


Jembatan ampera menyala di kejauhan 
menyeberangkan angan 


di musi yang mengalir tenang


Palembang, 2011

Akulah Air

Akulah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Mungkinkah airmatamu?Membawa remah sampah luka manusia hingga ke muara, hingga ke lautan penampung segala kesah segala susah


Akulah air, akulah air, mengucur dari langit kenangan. Kenangmu pada airmata. Kenangmu pada cinta. Surga yang cahaya


Akulah air yang menyangga perahu perahu pengelana, dari gemericik kecil menjelma sungai sungaimembelah kotamu membawa pesan gunung kepada lautan membawa pesan mata air ke gelombang lautan


Akulah air membawa saripati pegunungan, melarutkan garam kehidupan. Bagimu. Bagimu. Kupersembahkan cinta


Akulah air. Akulah air mengalir dalam tubuhmu. Mengalir dari matamu


Sebagai cinta mengalir. Sebagai rindu mengalir ke muara cintanya. Akulah air. Airmatamu!


Palembang, 2011

Yang Pendar Yang Luruh

pendar cahaya, di mata yang telaga. mimpi yang hijau, di tepi dinihari. hembuskan di dada musim, kerinduan tak usia ditulisterjemahkan


daun daun jatuh daun daun luruh bersimpuh di bumi yang merindu sentuh


Malang, 2011

Melintasi Malam

pada buku berdebu, kau ingin membekukan waktu. karena secuplik ingatan, detik yang ingin terus tersimpan. serupa sajak, menyimpan jejak



demikian liris, demikian lirih, bisik angin pada angan. serupa rimis, menyapa miris, menitik di puncak detak. jam menggigil di dentangnya
malam kian menebal. cinta membuatnya kian bebal. dan rindu yang banal. ah, kenangan yang bengal! semakin tak kau kenal
Malang, 2011

Akulah Burung yang Menyapa Setiap Pagi

sayapku terlalu mungil untuk mengepak jauh ke langit rahasiamu. hening yang asing. sunyi yang tak terkira


kicauku terlalu parau terlalu sengau kabarkan cinta yang remah di tangan manusia yang saling curiga. aku mematuki rahasia 


paruhku yang kecil mengetuk dinding sunyimu. rahasia kehendak. garis takdir. Cintamu yang abadi, kueja berulangkali 


aku hinggap dari ranting ke ranting, menerjemah gugur daun, menerjemah geliat ulat di paruhku, menerjemah embun dicium cahaya matahari di pagi hari


kau dengar kicau syairku, di halaman rumah, di pohon yang ranggas oleh kemarau, kicauku yang manis terdengar, adalah tangis 


sayapku terlalu letih membentur badai tanyaku sendiri, bumi yang nelangsa, dunia yang membuatku mabuk tak berdaya


Malang, 26 Juli 2011

Google+ Followers

Pengikut

Kicauan