Jumat, 14 Oktober 2011

Mencintaimu

: kunthi hastorini

Aku hikmati hidup ini,
dengan mencintaimu setulus hati,
ungkapan syukur tiada henti 

Aku hikmati hidup ini,
sepenuh khidmat, usia demi usia semoga tak tersia,
mencinta karena Maha Cinta

Karena mencintaimu
adalah ibadah hidupku,
mensyukuri sebuah karunia 

Di dalam Cinta, kita berdoa

Malang, 7 Juli 2011


Di Pagi Hari

Kabut menyapa jalan-jalan. Kabut masih menunggu cahaya, yang akan menjemput. Bersama senyum matahari.

Di gigil udara, puisi mendaras embun ingatan, hingga cahaya menghangatkannya

Bulan di puncak bukit. Perlahan sembunyi. Ucapkan selamat pagi kepada matahari 

Jalan-jalan masih menyisakan cahaya lampu, yang tak tertidur sepanjang malam. Selamat pagi. Tidurlah segera, kata matahari 

Malang, 15 Agustus 2011

di sunyi itu ada yang memintamu membaca

malam kuyup dengan cahaya bulan, dan gundah ini? kuyup dengan cahaya matamu

apa yang digelisahkan dari ketiadaan? tiada. hanya kesunyian tak berbatas tepi. sepi. teramat sepi 

di sunyi itu. ada yang memintamu membaca. bacalah! bacalah! dan engkau akan mengerti: Diri 

Malang, 16 Agustus 2011


Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair

menatap huruf huruf yang letih,
biarlah tertidur dalam istirah,
biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam

para penyair berumah di dalam puisi,
berdiam dalam sunyi

di dalam sunyi
penyair membaca makna
rahasia diri

di dalam sunyi
penyair menghikmati cinta
menghidmati rindu,

keabadian dan kebenaran sejati

Malang, 16 Agustus 2011


Sajak Yang Bersyukur dan Merdeka

Sajakku pagi ini adalah sajak yang tak henti berucap terima kasih, rasa syukur tak terhingga, sebuah doa 

Kita menunggu secercah fajar, harap yang lahir senantiasa, di penghujung malam, kita berdoa: bahagia untuk semua 

Kita terus berdoa, berterima kasih, karena kita tetap manusia, yang punya harap dan cinta 

Adalah gema, dalam dada, ucapkan cinta, kepada kehidupan, o manusia merdeka!

Malang, 17 Agustus 2011