Penyair Cyber
Puisi Dunia Maya
Selasa, 10 Januari 2012
Jumat, 14 Oktober 2011
Mencintaimu
: kunthi hastorini
Aku hikmati hidup ini,
dengan mencintaimu setulus hati,
ungkapan syukur tiada henti
Aku hikmati hidup ini,
sepenuh khidmat, usia demi usia semoga tak tersia,
mencinta karena Maha Cinta
Karena mencintaimu
adalah ibadah hidupku,
mensyukuri sebuah karunia
Di dalam Cinta, kita berdoa
Malang, 7 Juli 2011
Di Pagi Hari
Kabut menyapa jalan-jalan. Kabut masih menunggu cahaya, yang akan menjemput. Bersama senyum matahari.
Di gigil udara, puisi mendaras embun ingatan, hingga cahaya menghangatkannya
Bulan di puncak bukit. Perlahan sembunyi. Ucapkan selamat pagi kepada matahari
Jalan-jalan masih menyisakan cahaya lampu, yang tak tertidur sepanjang malam. Selamat pagi. Tidurlah segera, kata matahari
Malang, 15 Agustus 2011
di sunyi itu ada yang memintamu membaca
malam kuyup dengan cahaya bulan, dan gundah ini? kuyup dengan cahaya matamu
apa yang digelisahkan dari ketiadaan? tiada. hanya kesunyian tak berbatas tepi. sepi. teramat sepi
di sunyi itu. ada yang memintamu membaca. bacalah! bacalah! dan engkau akan mengerti: Diri
Malang, 16 Agustus 2011
Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair
menatap huruf huruf yang letih,
biarlah tertidur dalam istirah,
biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam
para penyair berumah di dalam puisi,
berdiam dalam sunyi
di dalam sunyi
penyair membaca makna
rahasia diri
di dalam sunyi
penyair menghikmati cinta
menghidmati rindu,
keabadian dan kebenaran sejati
Malang, 16 Agustus 2011
Sajak Yang Bersyukur dan Merdeka
Sajakku pagi ini adalah sajak yang tak henti berucap terima kasih, rasa syukur tak terhingga, sebuah doa
Kita menunggu secercah fajar, harap yang lahir senantiasa, di penghujung malam, kita berdoa: bahagia untuk semua
Kita terus berdoa, berterima kasih, karena kita tetap manusia, yang punya harap dan cinta
Adalah gema, dalam dada, ucapkan cinta, kepada kehidupan, o manusia merdeka!
Malang, 17 Agustus 2011
Langganan:
Entri (Atom)