Senin, 25 Juli 2011

Losari Siang Hari

Pantai Losari bermandi cahaya matahari. 
Biru laut. Laut biru. Kapal dan perahu melaju. 

Hari yang cerah. Langit yang biru. 
Tersenyum padamu

Makassar, Juli 2011

Senja di langit losari

Senja itu menyemburat di langit. Losari yang mulai menyalakan lampu lampu.


Senja di langit losari. Ucapkan salam pada pantai. Ucapkan salam pada tiang tiang pancang. Senja. Senja


Makassar, Juli 2011

Musi Malam Hari

Bulan mengambang 
di langit lengang. 


Jembatan ampera menyala di kejauhan 
menyeberangkan angan 


di musi yang mengalir tenang 


Palembang, 2011

Akulah Air

Akulah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Mungkinkah airmatamu? Membawa remah sampah luka manusia hingga ke muara, hingga ke lautan penampung segala kesah segala susah 


Akulah air, akulah air, mengucur dari langit kenangan. Kenangmu pada airmata. Kenangmu pada cinta. Surga yang cahaya 


Akulah air yang menyangga perahu perahu pengelana, dari gemericik kecil menjelma sungai sungai membelah kotamu membawa pesan gunung kepada lautan membawa pesan mata air ke gelombang lautan 


Akulah air membawa saripati pegunungan, melarutkan garam kehidupan. Bagimu. Bagimu. Kupersembahkan cinta 


Akulah air. Akulah air mengalir dalam tubuhmu. Mengalir dari matamu


Sebagai cinta mengalir. Sebagai rindu mengalir ke muara cintanya. Akulah air. Airmatamu! 


Palembang, 2011

Yang Pendar Yang Luruh

pendar cahaya, di mata yang telaga. mimpi yang hijau, di tepi dinihari. hembuskan di dada musim, kerinduan tak usia ditulisterjemahkan


daun daun jatuh daun daun luruh bersimpuh di bumi yang merindu sentuh


Malang, 2011

Melintasi Malam

pada buku berdebu, kau ingin membekukan waktu. karena secuplik ingatan, detik yang ingin terus tersimpan. serupa sajak, menyimpan jejak



demikian liris, demikian lirih, bisik angin pada angan. serupa rimis, menyapa miris, menitik di puncak detak. jam menggigil di dentangnya

malam kian menebal. cinta membuatnya kian bebal. dan rindu yang banal. ah, kenangan yang bengal! semakin tak kau kenal

Malang, 2011

Akulah Burung yang Menyapa Setiap Pagi

sayapku terlalu mungil untuk mengepak jauh ke langit rahasiamu. hening yang asing. sunyi yang tak terkira


kicauku terlalu parau terlalu sengau kabarkan cinta yang remah di tangan manusia yang saling curiga. aku mematuki rahasia 


paruhku yang kecil mengetuk dinding sunyimu. rahasia kehendak. garis takdir. Cintamu yang abadi, kueja berulangkali 


aku hinggap dari ranting ke ranting, menerjemah gugur daun, menerjemah geliat ulat di paruhku, menerjemah embun dicium cahaya matahari di pagi hari


kau dengar kicau syairku, di halaman rumah, di pohon yang ranggas oleh kemarau, kicauku yang manis terdengar, adalah tangis 


sayapku terlalu letih membentur badai tanyaku sendiri, bumi yang nelangsa, dunia yang membuatku mabuk tak berdaya


Malang, 26 Juli 2011