Langsung ke konten utama

GELOMBANG

 Puisi: Nanang Suryadi


gelombang laut garang

gemuruh menderu deru

melayar perahu melayar

 

gelombang demi gelombang

nelayan tetap melaut

melancar menyingkirkan takut

 

o, arus memusar

o, badai menghantam

akan reda saatnya

 

Malang, 30 Juni 2020


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan Adakah Kau Rasa Aku Merindu Apa Kabar Senja Bagaimana Dapat Kau Rasa Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia Cintaku Dari Kerling Hening Di Ujung Setia Dinyalakan-Nya Halangi Langkah Kaki Jangan Jadi Duri Jika Cinta Hadir Kau Tahu Kudekap Engkau Kuingin Katakan Kumpulan Puisi Cinta Kunthi Hastorini Kutemu Senyummu Kutulis Lelaki Berpuisi LENGKUNG MIMPI Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan Menapak Jejak di Jalan Setapak Menemu Negeri Cahaya Pada Keping Yang Sama Puisi Puisi Berdua Puisi Cinta Puisi Cinta Berdua Puisi Cinta Kita Puisi Cinta Romantis Puisi Kunthi Hastorini Rahasia Danau Sajak Sangsi Sebagai Embun Sebagai Hujan Tafakur Lelaki Upacara Takdir Yang Digenapkan Ziarah Kenangan (2)

Dari Kotagede hingga Tegalrejo

"aku ingin berjalan, menelusur jejak para leluhur," kata wisatawan sambil menunjuk peta kota Jogja.   lalu dia bercerita tentang trah riwayat, jalan-jalan yang dilalui, dari Kotagede hingga Tegal Rejo   sejarah mengalir serupa alir sungai Gajah Wong, Code, Progo, Boyong dan Gendol, tanpa tulisan waspada di musim hujan tiba   "berapa ongkos ke Tegalrejo dari sini?" kepada pengayuh becak yang tergagap melihat peta yang disorongkan ke hadapannya   dari Kotagede hingga Tegalrejo, imaji mengelilingi kota: Jogjakarta.   Malang, 2021  

Mari Membaca Sajak Penyaircyber Nanang Suryadi

Mungkin kita baca lagi sajak-sajak yang pernah ditulis. Mungkin sudah dilupa. Karena sudah terlalu lama bertumpuk di jejaring internet. Mari kita baca lagi: Kumpulan Puisi Nanang Suryadi AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU Aku Adalah Airmata Aku Menunggumu Membakar Malam CINTA YANG TAK PERNAH PUTUS ASA Dentang Kenang, Tatap yang Ratap MENERA WARNA DARAH Menyapa Jakarta Senja SERUPA DAUN DI DAHAN YANG LETIH Surabaya Hujan Hingga Larut Malam Surabaya, Di Atas Loteng Tiang Tanpa Bendera UNTUK PARA PENGGALAU DI LINTASAN WAKTU YANG SENDIRI, DAN SELALU MERINDU, MUNGKIN DIRIMU aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ? puisi selalu cemburu pada hidup yang nyaman