Langsung ke konten utama

Serupa Kabut

serupa kabut, rahasia demi rahasia, menutupi mata, siapa hendak menerka isyarat dingin menusuk sumsum tulang. o petualang sibaklah


jam-jam mendetikkan jarumnya menusuk ke dada waktu. aku terhuyung bertiktak tak henti. menuju puncak. menuju puncak. ah, letihnya


kalimatku telah demikian parau. membahasakan suara-suara bergalau. ini gebalau tak tentu. gebalau kacau menyamarkan pandangku.


suara berdengung. mendengung. mikropon rusak. spiker sengau. penjual obat dan kursi bersitegang di balik pintu menandak mabuk di atas meja.


serupa kabut. mengacau pandangku. menebal tebal di perjalanan waktu. o engkau sibakkan dengan cahaya. cahaya yang menerobos kebekuan!


Malang, 12 Juli 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mari Membaca Sajak Penyaircyber Nanang Suryadi

Mungkin kita baca lagi sajak-sajak yang pernah ditulis. Mungkin sudah dilupa. Karena sudah terlalu lama bertumpuk di jejaring internet. Mari kita baca lagi: Kumpulan Puisi Nanang Suryadi AKU MENYAPAMU DI LINTASAN WAKTU Aku Adalah Airmata Aku Menunggumu Membakar Malam CINTA YANG TAK PERNAH PUTUS ASA Dentang Kenang, Tatap yang Ratap MENERA WARNA DARAH Menyapa Jakarta Senja SERUPA DAUN DI DAHAN YANG LETIH Surabaya Hujan Hingga Larut Malam Surabaya, Di Atas Loteng Tiang Tanpa Bendera UNTUK PARA PENGGALAU DI LINTASAN WAKTU YANG SENDIRI, DAN SELALU MERINDU, MUNGKIN DIRIMU aku mengetuk-ngetuk kepalaku sendiri: tuk.tuk.tuk. ada orang di situ? puisi selalu cemburu pada hidup yang nyaman

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan Adakah Kau Rasa Aku Merindu Apa Kabar Senja Bagaimana Dapat Kau Rasa Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia Cintaku Dari Kerling Hening Di Ujung Setia Dinyalakan-Nya Halangi Langkah Kaki Jangan Jadi Duri Jika Cinta Hadir Kau Tahu Kudekap Engkau Kuingin Katakan Kumpulan Puisi Cinta Kunthi Hastorini Kutemu Senyummu Kutulis Lelaki Berpuisi LENGKUNG MIMPI Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan Menapak Jejak di Jalan Setapak Menemu Negeri Cahaya Pada Keping Yang Sama Puisi Puisi Berdua Puisi Cinta Puisi Cinta Berdua Puisi Cinta Kita Puisi Cinta Romantis Puisi Kunthi Hastorini Rahasia Danau Sajak Sangsi Sebagai Embun Sebagai Hujan Tafakur Lelaki Upacara Takdir Yang Digenapkan Ziarah Kenangan (2)

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012 Antologi Puisi Apa yang Kau Pikirkan, Katamu Blog Sastra Indonesia Bulan Menari antara Ada dan Tiada Candu Kata-Kata Ijinkan Ayah Menangis Saat Ini Kita Berdua Saja Saling Membaca Tanda Kumpulan Puisi Terbaru 2013 Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat Menelusur Malam, Menembus Temaram Nasi Goreng Rambut Memutih Rumah-Rumah di Atas Gunung Serabi Jalan Margonda Sketsa Suasana Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur UGD Tengah Malam Untuk Arya Mada Hastasurya ada yang kuingat dari segelas kopi apa yang harus aku kabarkan padamu? di Reruntuhan Keraton setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi