Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan Adakah Kau Rasa Aku Merindu Apa Kabar Senja Bagaimana Dapat Kau Rasa Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia Cintaku Dari Kerling Hening Di Ujung Setia Dinyalakan-Nya Halangi Langkah Kaki Jangan Jadi Duri Jika Cinta Hadir Kau Tahu Kudekap Engkau Kuingin Katakan Kumpulan Puisi Cinta Kunthi Hastorini Kutemu Senyummu Kutulis Lelaki Berpuisi LENGKUNG MIMPI Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan Menapak Jejak di Jalan Setapak Menemu Negeri Cahaya Pada Keping Yang Sama Puisi Puisi Berdua Puisi Cinta Puisi Cinta Berdua Puisi Cinta Kita Puisi Cinta Romantis Puisi Kunthi Hastorini Rahasia Danau Sajak Sangsi Sebagai Embun Sebagai Hujan Tafakur Lelaki Upacara Takdir Yang Digenapkan Ziarah Kenangan (2)

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012 Antologi Puisi Apa yang Kau Pikirkan, Katamu Blog Sastra Indonesia Bulan Menari antara Ada dan Tiada Candu Kata-Kata Ijinkan Ayah Menangis Saat Ini Kita Berdua Saja Saling Membaca Tanda Kumpulan Puisi Terbaru 2013 Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat Menelusur Malam, Menembus Temaram Nasi Goreng Rambut Memutih Rumah-Rumah di Atas Gunung Serabi Jalan Margonda Sketsa Suasana Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur UGD Tengah Malam Untuk Arya Mada Hastasurya ada yang kuingat dari segelas kopi apa yang harus aku kabarkan padamu? di Reruntuhan Keraton setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi

Mencintaimu

: kunthi hastorini Aku hikmati hidup ini, dengan mencintaimu setulus hati, ungkapan syukur tiada henti  Aku hikmati hidup ini, sepenuh khidmat, usia demi usia semoga tak tersia, mencinta karena Maha Cinta Karena mencintaimu adalah ibadah hidupku, mensyukuri sebuah karunia  Di dalam Cinta, kita berdoa Malang, 7 Juli 2011

Di Pagi Hari

Kabut menyapa jalan-jalan. Kabut masih menunggu cahaya, yang akan menjemput. Bersama senyum matahari. Di gigil udara, puisi mendaras embun ingatan, hingga cahaya menghangatkannya Bulan di puncak bukit. Perlahan sembunyi. Ucapkan selamat pagi kepada matahari  Jalan-jalan masih menyisakan cahaya lampu, yang tak tertidur sepanjang malam. Selamat pagi. Tidurlah segera, kata matahari  Malang, 15 Agustus 2011

Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair

menatap huruf huruf yang letih, biarlah tertidur dalam istirah, biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam para penyair berumah di dalam puisi, berdiam dalam sunyi di dalam sunyi penyair membaca makna rahasia diri di dalam sunyi penyair menghikmati cinta menghidmati rindu, keabadian dan kebenaran sejati Malang, 16 Agustus 2011

Sajak Yang Bersyukur dan Merdeka

Sajakku pagi ini adalah sajak yang tak henti berucap terima kasih, rasa syukur tak terhingga, sebuah doa  Kita menunggu secercah fajar, harap yang lahir senantiasa, di penghujung malam, kita berdoa: bahagia untuk semua  Kita terus berdoa, berterima kasih, karena kita tetap manusia, yang punya harap dan cinta  Adalah gema, dalam dada, ucapkan cinta, kepada kehidupan, o manusia merdeka! Malang, 17 Agustus 2011