Langsung ke konten utama

Huruf yang Letih dan Kesunyian Penyair

menatap huruf huruf yang letih,
biarlah tertidur dalam istirah,
biar lelah lebur dalam sunyi yang mendalam

para penyair berumah di dalam puisi,
berdiam dalam sunyi

di dalam sunyi
penyair membaca makna
rahasia diri

di dalam sunyi
penyair menghikmati cinta
menghidmati rindu,

keabadian dan kebenaran sejati

Malang, 16 Agustus 2011


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Kumpulan Puisi Terbaik Nanang Suryadi 2011 - 2012 Antologi Puisi Apa yang Kau Pikirkan, Katamu Blog Sastra Indonesia Bulan Menari antara Ada dan Tiada Candu Kata-Kata Ijinkan Ayah Menangis Saat Ini Kita Berdua Saja Saling Membaca Tanda Kumpulan Puisi Terbaru 2013 Lalu Engkau Menyusun Kata Khianat Menelusur Malam, Menembus Temaram Nasi Goreng Rambut Memutih Rumah-Rumah di Atas Gunung Serabi Jalan Margonda Sketsa Suasana Tentang Mimpi Penyair yang Tak Segera Ingin Tidur UGD Tengah Malam Untuk Arya Mada Hastasurya ada yang kuingat dari segelas kopi apa yang harus aku kabarkan padamu? di Reruntuhan Keraton setiap pagi, arya lihat burung burung bernyanyi

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan

Ruang Puisi Ruang Hati Ruang Sunyi: Antologi Puisi Kenangan Adakah Kau Rasa Aku Merindu Apa Kabar Senja Bagaimana Dapat Kau Rasa Bagaimana Dapat Kugambarkan Bahagia Cintaku Dari Kerling Hening Di Ujung Setia Dinyalakan-Nya Halangi Langkah Kaki Jangan Jadi Duri Jika Cinta Hadir Kau Tahu Kudekap Engkau Kuingin Katakan Kumpulan Puisi Cinta Kunthi Hastorini Kutemu Senyummu Kutulis Lelaki Berpuisi LENGKUNG MIMPI Matamu Adalah Cahaya Purnama Bulan Menapak Jejak di Jalan Setapak Menemu Negeri Cahaya Pada Keping Yang Sama Puisi Puisi Berdua Puisi Cinta Puisi Cinta Berdua Puisi Cinta Kita Puisi Cinta Romantis Puisi Kunthi Hastorini Rahasia Danau Sajak Sangsi Sebagai Embun Sebagai Hujan Tafakur Lelaki Upacara Takdir Yang Digenapkan Ziarah Kenangan (2)

GELOMBANG

 Puisi: Nanang Suryadi gelombang laut garang gemuruh menderu deru melayar perahu melayar   gelombang demi gelombang nelayan tetap melaut melancar menyingkirkan takut   o, arus memusar o, badai menghantam akan reda saatnya   Malang, 30 Juni 2020