MALAM MENYIMPAN AIRMATA

malam menyimpan airmata, dan mengembunkannya di pelupuk mata, matamu. serupa sajak, yang menerima kesah, tanpa menggerutu. 

malam telah menegaskan kelamnya, kita menggambarnya dengan cahaya, lampu lampu berkedipan, berpendar di kejauhan 

peluk aku, sebelum waktu berlalu beku, sebelum padam segala damba. peluk aku! 

kita menuai ingatan ingatan, yang berlepasan, semacam rasa bahagia yang diputar kembali, dalam benak yang menyimpan senyuman 

ada suara bergema dari masa lalu, denting piano, getar senar gitar, sajak-sajak yang menyimpan pedih, sejarah airmata 

ada yang mengulang ulang kabar, mengeja airmata, karena cuma itu yang tersisa, mengingat jejak yang kian pudar 
  
apa yang terlukis, mungkin gelisah waktu, detak jam dalam jantungmu, menyerunyeru 
  
kita mengeja isyarat tanda, jejak pada sajak, mimpi di dalam puisi, wajahmu wajahku pulalah tercermin di sana 
  
pada gigil udara kita mengeja isyarat semesta, yang mengada dan meniada, hanya satu adanya 
  
Malang, 2011

Komentar

Entri Populer