HURUF-HURUF MENGGELETAR

langit yang lengang, udara panas, tapi aku menggigil dalam sajakku sendiri. huruf-huruf meminta dituliskan dalam darah. dalam derita airmata

huruf-huruf menggeletar menggelepar memburu jawabku: "cintamu palsu, nafsu birahi melulu! apakah kau dengar jerit pilu di lapangan eksekusi?

"masihkah engkau ingin menulis sajak cinta, saat keadilan teraniaya?" demikian sebuah suara. dan aku tergagap gila. 

ya, kita terlalu banyak berbicara, memperdebatkan yang hanya bisa dirasakan, di dalam dada kita sendiri. 

ada apa di luar sana, masihkah cinta diperdebatkan, udara tropis yang panas tapi aku gigil mengeja cinta yang berteka-teki 

aku bayangkan ada serpihan-serpihan salju meluncur dari langit yang lengang, langit abu-abu, di saat gigil memandang jendela 

Malang, 2011

Komentar

Entri Populer